
UPP Perempuan Klasis Kota Kupang menyelenggarakan Ibadah Gabungan Perempuan dalam rangka Hari Doa Sedunia (HDS) bersama perempuan Nigeria pada Rabu, 04 Maret 2026, bertempat di GMIT Jemaat Ebenhaezer Oeba. Ibadah ini dihadiri oleh perempuan-perempuan dari berbagai jemaat di lingkup Klasis Kota Kupang yang datang untuk bersekutu, berdoa, dan belajar dari pergumulan perempuan Kristen di berbagai belahan dunia.
Ibadah dipimpin dalam suasana penuh sukacita dan kebersamaan. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah banyak peserta yang mengenakan pakaian dengan nuansa budaya Nigeria, yang dikenal berwarna-warni dan dilengkapi dengan tutup kepala khas perempuan Nigeria. Hal ini menjadi simbol solidaritas dan kebersamaan dengan perempuan Nigeria yang menjadi fokus perayaan Hari Doa Sedunia tahun ini.
Firman Tuhan dalam ibadah ini disampaikan oleh Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, Pdt. Delviana K. Poych–Snae, S.Th., M.Pd.K, dengan dasar Alkitab dari Matius 11:28–30: “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Dalam khotbahnya, Pdt. Delviana menyampaikan bahwa ibadah ini hadir dalam dua momen penting dalam kehidupan gereja, yaitu dalam masa Minggu Sengsara sekaligus perayaan Hari Doa Sedunia yang tahun ini mengajak umat percaya untuk belajar dari kehidupan perempuan Nigeria.
Ia juga mengingatkan bahwa Afrika, termasuk Nigeria, bukanlah wilayah yang asing dalam sejarah iman Kristen. Dalam kisah sengsara Yesus, Alkitab mencatat tentang Simon dari Kirene, seorang dari wilayah Afrika yang ditunjuk untuk memikul salib Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal sejarah kekristenan, orang-orang dari Afrika telah menjadi bagian dari perjalanan iman umat percaya.
Dalam refleksinya, Pdt. Delviana juga menggambarkan kondisi Nigeria saat ini. Meskipun dikenal sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Afrika, Nigeria masih menghadapi berbagai tantangan seperti kemiskinan, krisis pangan, serta persoalan korupsi. Di tengah situasi tersebut, perempuan—terutama perempuan Kristen—sering menghadapi tekanan dan pergumulan yang tidak mudah, termasuk dalam konteks kekerasan antar komunitas dan diskriminasi agama.
Pergumulan ini tercermin dalam kisah tiga perempuan yang disebutkan dalam liturgi Hari Doa Sedunia, yaitu Betris, Jato, dan Blessing.
Betris adalah seorang perempuan yang pada usia 28 tahun harus kehilangan suaminya akibat kekerasan antar komunitas. Jato mengalami kekerasan karena identitasnya sebagai seorang Kristen. Sementara Blessing bergumul dengan realitas kemiskinan yang mempengaruhi kehidupan keluarganya.
Melalui kisah-kisah ini, jemaat diajak untuk melihat bahwa perempuan di berbagai belahan dunia memiliki pergumulan yang nyata, namun di tengah situasi tersebut iman kepada Kristus tetap menjadi sumber kekuatan dan pengharapan.
Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Delviana mengajak seluruh perempuan yang hadir untuk tetap datang kepada Kristus dalam setiap pergumulan hidup. Firman Tuhan dalam Matius 11 :28–30 mengingatkan bahwa Yesus memanggil setiap orang yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya, karena di dalam Dia ada kelegaan, pengharapan, dan kekuatan untuk menjalani hidup.
Ibadah Gabungan Hari Doa Sedunia ini menjadi momentum penting bagi perempuan-perempuan di Klasis Kota Kupang untuk memperkuat iman, membangun solidaritas global, serta terus menghadirkan doa bagi perempuan di seluruh dunia yang bergumul dalam berbagai tantangan kehidupan.
Melalui persekutuan ini, diharapkan perempuan-perempuan GMIT semakin diteguhkan untuk menjadi pembawa damai, pengharapan, dan kasih Kristus di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat.







